Article Details

Temukan inspirasi dan wawasan seputar perhotelan, kapal pesiar, dan industri pariwisata di Article kami. Langkah kecil menuju sukses dimulai di sini.

Pengalaman Merasakan Ramadhan di Kapal Pesiar

Pengalaman merasakan Ramadhan di kapal pesiar tentu saja menjadi salah satu pelajaran yang mahal harganya. Dengan perbedaan suhu, cuaca, dan kondisi tentu saja menjadi tantangan tersendiri bagi para kru kapal pesiar. Selain itu perbedaan waktu serta aktivitas bekerja yang tidak berkurang sama sekali, karena kebanyakan tamu yang dilayani tidak menjalankan ibadah puasa.

Kapal pesiar yang berlayar di darah utara, khususnya kutub utara tentu saja akan memiliki kondisi yang sangat ekstrim bagi kru kapal pesiar. Apalagi mereka yang berasal dari asia seperti Indonesia. Lama waktu berpuasa tentu sangat berbeda dibandingkan dengan di Indonesia sendiri. Selain itu kondisi cuaca atau suhu bisa jadi sangat amat dingin. Tentu hal ini sangat berpengaruh terhadap fisik.

Pengalaman merasakan Ramadhan di kapal pesiar ini bisa menjadi referensi bagi para calon kru kapal pesiar. Sehingga nantinya mereka bisa belajar untuk tetap bertahan selama puasa dengan ativitas yang tidak berkurang. Harus beradaptasi dengan segala hal. Berikut adalah beberapa hal yang menjadi catatan saat berpuasa di kapal peisar. 

Hal yang Wajib Diketahui Saat Berpuasa di Kapal Pesiar

Berikut adalah beberapa hal yang patut untuk diketahui saat berpuasa di atas kapal pesiar. Hal ini bisa menjadi tantangan yang berat di awal tetapi jika diniatkan ibadah akan menjadi mudah seiring dengan berjalannya waktu. 

Perbedaan Waktu Puasa

Untuk beberapa wilayah, khususnya daerah dingin seperti kututb utara, kemudian ada juga Alaska, lalu ada juga Finlandia memiliki waktu puasa yang relative sangat lama dibandingkan dengan di Indonesia. Kru kapal pesiar yang melintasi wilayah tersebut (Alaska) mengaku berpuasa bisa mencapai 21 jam. Mereka akan memulai untuk sahur pukul 02.00 dini hari dan akan berbuka pukul 23.30.

Berbeda di wilayah Finlandia, misalnya. Mereka yang melintasi wilayah tersebut akan menjalankan puasa selama 20 hingga 21 jam. Tetapi di daerah Laplandia (bagian utara Finlandia) menjadi lebih lama karena mereka harus menjalankan puasa selama hamper 23 jam.

Bahkan di musim panas di wilayah-wilayah tertentu, seperti di Uruguai (Montevideo), Valparaiso (Chile) terkadang jam 11 malam masih sangat terang benderang seperti jam 2 siang. Di wilayah lain misalnya, di bagian utara FInalandia di Laplandia Selain itu di daerah ini matahari hanya tebenam selama 55 menit saja.

Bahkan sumber lain mengatakan jika di Isofjodur (Islandia) kru kapal pesiar melakukan sahur pukul 1 pagi dan berbuka pukul 23.54 malam, hampir 22-23 jam berpuasa. Ketika berbuka adalah waktu untuk sahur sekaligus. Seperti di wilayah lain, di wilayah ini matahari hamper tidak pernah tenggelam sama sekali. Kaena di waktu malam masih sangat terang benderang. Tidak ada gelap sama sekali.

Dengan perbedaan waktu seperti ini tentu saja memerlukan perjuangan dan k=niat yang kuat untuk menyelesaikan puasa di atas kapal pesiar. Kamu harus menyiapkan kesehatan mental dan juga fisik untuk menempuh semua tantangan ini, khususnya di atas kapal pesiar.

Perbedaan Suhu

Selain perbedaan lamanya waktu berpuasa, kru kapal pesiar juga masih harus bertarung dengan suhu yang ada. Misalnya di wilayah kutub utara, sudah jelas wilayah yang hamper keseluruhannya dikelilingi gunung es ini memiliki suhu yang sangat amat dingin. Beberapa sumber menyebutkan jika suhu di kutub utara mencapai -34 derajat Celsius hingga -49 derajat celcius.

Tentu saja suhu ini sangat amat dingin. Apalagi bagi kru kapal pesiar yang dating dari daerah asia tenggara, khsusunya Indonesia yang tidak memiliki musim dingin sama sekali. Tentu saja harus mempersiapkan dan membiasakan diri dengan wilayah-wilayah dengan suhu yang dingin. Kamu harus pintar untuk mencari informasi untuk bertahan dalam keadaan tersebut dengan tetap melakukan aktivitas pekerjaan.

Apalagi ditambah dengan kondisi bualan puasa, tentu saja hal ini akan menambah tantangan yang sangat berap untuk bisa merampungkannya selama sehari. Memerlukan kerja keras dan niat yang sangat kokoh untuk bisa menyelesaikan puasa selama sebulan penuh di atas kapal pesiar dengan wilayah pelayaran ke dwrah bersuhu dingin.

Penentuan Waktu Berbuka

Jangan pernah membayangkan di atas lautan bahkan samudra kita akan mendengar kumandang adzan yang merdu. Kru kapal pesiar tidak bisa mengandalkan adzan sebagai tanda dalam berbuka. Tentu saja dalam hukumnya berbuka ditandai dengan tenggelamnya matahari. Maka tidak heran jika banyak negara yang sudah disebutkan di atas bisa memiliki waktu ouasa yang sangat panjang.

Salah satu hal yang beropengarush adalah matahari tenggelam yang sangat lama, hampir 23 jam matahari menyinari kita dia atas kapal. Untuk menentukan saat berbuka di atas loaut, kru kapal pesiar tidak mengandalkan jam. Tetapi nahkoda kapal akan melihat kapan terbenamnya matahari, kemudian akan diinformasikan ke seluruh awak kapal.

Jika kondisi cuaca sedang tidak bersahabat, akan cukup sulit dalam menentukan waktu berbuka puasa. Apalagi jika langit sedang ditutup mendung tebal. Pilihan yang ada adalah menunggu sampai cuaca kembali normal. Hal ini akan menjadi sesuatu yang sangat berat bagi yang menjalankan ibadah puasa.

Jadi ini adalah beberapa pengalaman merasakan Ramadhan di kapal pesiar oleh para kru yang sudah dirangkum dari berbagai sumber. Siapkan diri kamu, terutama bagi kamu yang memiliki cita-cita bekerja di kapal pesiar.